Berita: James Watson, Penerima Hadiah Nobel untuk Teori Double Helix Struktur DNA manusia, baru saja meninggal pada usis 97 tahun pada hari Kamis, 6 November 2025 kemarin di East Northport, New York, Amerika Serikat.
Hariagus bertanya kepada AI (Artificial Intelligence): many years ago I read somewhere that James Watson actually was not the true founder of the structure of human DNA. He stole the idea from the research paper of a British Woman Researcher before she was able to publish her findings. What is the name of the British Woman Researcher?
Jawaban AI Gemini:
Nama peneliti wanita Inggris tersebut adalah Dr. Rosalind Franklin.
Anda mengingat inti dari salah satu kontroversi paling terkenal dalam sejarah sains.
Cerita yang Anda dengar itu sebagian besar benar. Rosalind Franklin adalah seorang ahli biofisika dan kristalografi sinar-X yang brilian. Bekerja di King's College London, dia dan muridnya (Raymond Gosling) berhasil mengambil gambar difraksi sinar-X DNA yang sangat jernih.
Inilah yang terjadi:
Photo 51 yang Krusial: Franklin mengambil gambar yang kemudian dikenal sebagai "Photo 51". Gambar ini adalah bukti visual terjelas pada saat itu yang menunjukkan bahwa DNA memiliki struktur heliks (spiral).
Kunci yang "Dicuri": James Watson dan Francis Crick juga sedang berusaha memecahkan struktur DNA di Cambridge, tetapi mereka buntu. Rekan kerja Franklin (yang hubungannya kurang baik dengannya), Maurice Wilkins, mengambil Photo 51 dan menunjukkannya kepada James Watson tanpa sepengetahuan atau izin Franklin.
Momen "Aha!": Bagi Watson, melihat foto itu adalah momen "Aha!". Pola "X" yang jelas di tengah foto itu langsung memberitahunya bahwa strukturnya adalah heliks, dan pengukuran pada foto itu memberi mereka dimensi pasti yang mereka butuhkan untuk membangun model mereka.
Publikasi dan Penghargaan: Watson dan Crick dengan cepat menggunakan data tersebut untuk menyelesaikan model heliks ganda mereka dan mempublikasikannya dalam jurnal Nature pada tahun 1953.
Kredit (Penghargaan) yang Hilang: Dalam artikel terobosan mereka, Watson dan Crick hampir tidak menyebutkan kontribusi data Franklin yang sangat penting. Makalah Franklin sendiri (yang mendukung model mereka) diterbitkan di isu yang sama dari jurnal Nature, tetapi diposisikan seolah-olah hanya sebagai data pendukung untuk teori Watson dan Crick, bukan sebagai data dasar yang memungkinkan teori itu ada.
Tragisnya, Rosalind Franklin meninggal karena kanker ovarium pada tahun 1958 pada usia 37 tahun.
Pada tahun 1962, James Watson, Francis Crick, dan Maurice Wilkins dianugerahi Hadiah Nobel untuk penemuan struktur DNA. Hadiah Nobel tidak diberikan secara anumerta (kepada orang yang sudah meninggal), sehingga Franklin tidak dapat dipertimbangkan. Namun, banyak sejarawan setuju bahwa jika dia masih hidup, dia pantas mendapatkan penghargaan itu bersama mereka.
Pertanyaan: Mana yang lebih mudah untuk melihat Google Map yang ditaruh di depan Speedometer mobil lama?
Yang UV400 saja atau yang Polarized juga?
Jawaban AI Gemini:
Untuk kasus yang sangat spesifik ini—melihat layar HP (Google Maps) di dalam mobil—jawabannya adalah: lensa UV400 saja (yang tidak polarized) seringkali lebih mudah dan lebih baik.
Ini mungkin terdengar berlawanan dengan intuisi, karena lensa polarized sangat bagus untuk menyetir.
Berikut adalah penjelasannya:
Masalah Lensa Polarized vs. Layar Digital
Layar HP, tablet, dan beberapa dasbor digital (layar LCD/OLED) memancarkan cahaya yang sudah terpolarisasi. Filter pada kacamata polarized Anda juga menyaring cahaya terpolarisasi.
Efek "Tabrakan"
Ketika dua filter polarisasi ini (layar HP dan kacamata Anda) bertemu, mereka bisa "bertabrakan". Ini akan menyebabkan:
Layar Terlihat Gelap: Layar HP Anda bisa terlihat sangat redup atau bahkan hitam total pada sudut tertentu.
Efek Pelangi: Anda mungkin melihat noda-noda berwarna pelangi atau pola aneh di layar.
Perlu Memiringkan Kepala: Anda mungkin harus memiringkan kepala Anda hanya untuk bisa melihat layar dengan jelas, yang tentu saja berbahaya saat mengemudi.
Kelebihan Lensa UV400 (Saja)
Lensa UV400 biasa (yang non-polarisasi) tidak memiliki filter khusus ini. Lensa ini hanya akan mengurangi kecerahan secara merata. Artinya, layar HP Anda akan terlihat, meskipun mungkin sedikit lebih redup (tergantung kegelapan lensa), tetapi tanpa distorsi, tanpa efek pelangi, dan tidak akan tiba-tiba menjadi hitam.
Kesimpulan:
Meskipun lensa polarized jauh lebih unggul untuk melihat jalanan (karena menghilangkan silau aspal), lensa itu bisa sangat merepotkan untuk melihat layar HP.
Karena prioritas Anda dalam kasus ini adalah melihat peta di HP dengan jelas, lensa UV400 saja (non-polarisasi) adalah pilihan yang lebih aman dan bebas masalah.
Pertanyaan: Bandingkan manfaat lensa UV400 dengan Lensa yang selain UV400 juga Polarized
Jawaban AI Gemini:
Ini adalah perbandingan yang bagus, karena keduanya mengatasi masalah yang berbeda.
Ringkasnya: UV400 adalah tentang KESEHATAN mata, sementara Polarized (Polarisasi) adalah tentang KENYAMANAN dan KEJELASAN visual.
Kabar baiknya adalah Anda tidak perlu memilih. Lensa Polarized yang berkualitas hampir selalu sudah menyertakan perlindungan UV400.
Mari kita bedah perbedaannya:
Ini adalah standar perlindungan yang wajib ada pada kacamata hitam.
Apa yang Dilakukannya?
Lensa ini memiliki lapisan khusus yang memblokir 100% radiasi sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya, termasuk sinar UVA dan UVB, hingga panjang gelombang 400 nanometer.
Analogi:
Anggap ini sebagai tabir surya (sunscreen) untuk mata Anda.
Manfaat Utama:
Melindungi mata Anda dari kerusakan jangka panjang.
Mencegah penyakit mata serius yang disebabkan oleh paparan UV, seperti katarak, degenerasi makula, dan pterygium (tumbuhnya selaput pada mata).
Apa yang TIDAK Dilakukannya?
Lensa UV400 (meskipun berwarna gelap) tidak mengurangi silau (glare) yang menyilaukan mata. Ia hanya mengurangi intensitas cahaya secara umum. Anda akan tetap menyipitkan mata saat melihat pantulan cahaya yang kuat di jalan basah atau kap mobil.
Ini adalah lensa UV400 standar yang ditambah dengan filter polarisasi.
Apa yang Dilakukannya?
Lensa ini melakukan semua yang dilakukan UV400 (melindungi kesehatan mata) PLUS sebuah filter kimia khusus yang berfungsi seperti tirai vertikal (venetian blinds).
Analogi:
Ini adalah tabir surya + kacamata peredam silau dalam satu paket.
Manfaat Tambahan (dari Polarisasi):
Menghilangkan Silau: Filter ini secara spesifik memblokir gelombang cahaya horizontal yang intens. Cahaya horizontal inilah yang kita kenal sebagai silau—pantulan menyilaukan dari permukaan datar seperti aspal, air, salju, atau kaca mobil.
Pilih UV400 Saja jika:
Anda membutuhkan kacamata hitam untuk penggunaan umum dan santai.
Anggaran Anda terbatas.
Anda tidak terlalu terganggu oleh silau.
Anda sering melihat layar LCD (beberapa filter polarisasi bisa membuat layar HP atau dasbor mobil terlihat aneh/gelap).
Pilih UV400 + Polarized jika:
Anda sering menyetir. Ini adalah manfaat terbesarnya, karena secara drastis mengurangi silau dari jalanan, aspal basah, dan dasbor mobil lain.
Anda banyak beraktivitas di air (memancing, berperahu, ke pantai). Lensa ini menghilangkan pantulan cahaya di permukaan air, sehingga Anda bisa melihat ke dalam air dengan lebih jelas.
Anda beraktivitas di salju (bermain ski).
Mata Anda sangat sensitif terhadap cahaya terang.
Pada dasarnya, jika aktivitas Anda melibatkan banyak pantulan silau, lensa Polarized akan memberikan peningkatan kenyamanan dan keamanan visual yang sangat signifikan.
Pertanyaan: Kenapa benua yang tenggelam ketika es mencair diberi Nama Sundaland, apa ada kaitan dengan nama suku Sunda di Jawa Barat?
Jawaban AI Gemini:
Ya, ada kaitan yang sangat erat, meskipun alurnya tidak langsung.
Nama ilmiah "Sundaland" (Paparan Sunda) adalah istilah yang relatif modern, namun ia diturunkan dari nama geografis yang jauh lebih tua, yang memang berasal dari nama Suku Sunda di Jawa Barat.
Berikut adalah kronologi bagaimana nama itu bisa dipakai:
Akar dari semuanya adalah Kerajaan Sunda, kerajaan yang pernah berkuasa di bagian barat Pulau Jawa.
Nama "Sunda" sendiri sudah sangat kuno. Nama ini dipakai oleh Raja Purnawarman pada tahun 397 M untuk menyebut ibu kota Kerajaan Tarumanagara.
Secara etimologi, banyak ahli meyakini nama "Sunda" berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu kata Suddha (atau Cuddha), yang berarti "Putih", "Bersih", atau "Suci". Ini mungkin merujuk pada letusan gunung berapi purba (Gunung Sunda) yang abunya berwarna putih.
Ketika para penjelajah dan pembuat peta Eropa (terutama Portugis) tiba di Nusantara pada abad ke-16, salah satu kerajaan besar yang mereka temui dan catat adalah Kerajaan Sunda.
Karena interaksi awal ini, mereka mulai menggunakan nama "Sunda" untuk menamai fitur-fitur geografis utama di wilayah tersebut.
Inilah yang melahirkan nama:
Selat Sunda: Selat yang memisahkan Pulau Jawa (wilayah Kerajaan Sunda) dengan Sumatera.
Kepulauan Sunda Besar (Greater Sunda Islands): Istilah untuk menyebut gugusan pulau-pulau besar di barat, yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.
Kepulauan Sunda Kecil (Lesser Sunda Islands): Istilah untuk gugusan pulau-pulau kecil di timurnya (Bali, NTB, NTT).
Pada awal abad ke-20 (sekitar tahun 1919), para ahli geologi Belanda, seperti G.A.F. Molengraaff, menyadari bahwa pulau-pulau di "Kepulauan Sunda Besar" (Jawa, Sumatera, Kalimantan) sebenarnya bukanlah pulau-pulau yang terpisah sejak awal.
Mereka menemukan bahwa pulau-pulau itu berada di atas satu paparan benua (continental shelf) yang sama.
Selama Zaman Es, ketika permukaan air laut turun, paparan ini terekspos sebagai satu daratan utuh yang terhubung ke benua Asia.
Para ilmuwan ini membutuhkan nama untuk benua yang tenggelam tersebut. Karena benua ini adalah "tanah" (land) yang menyatukan seluruh wilayah yang sudah dikenal sebagai "Kepulauan Sunda" (Sunda Islands), mereka memberinya nama yang logis: Sundaland.
Kesimpulannya:
Nama "Sundaland" tidak diambil langsung dari "Suku Sunda" oleh para geolog. Nama itu diambil dari istilah geografis "Kepulauan Sunda" (Sunda Islands), yang mana istilah tersebut memang berasal dari nama Kerajaan Sunda yang didirikan oleh Suku Sunda.